Kepribadian Wanita: Asma’ binti Umais, Istri Tiga Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

AKHWAT MUSLIMAH, MUSLIMAH · TAGGED: ABDUL HALIM ABU SYUQQAH, KEBEBASAN WANITA

inShare
1. Masuk Islam Sejak Dini dan Hijrah ke Habasyah

Abu Musa Radhiyallahu ‘Anh berkata: “… Asma binti Umais ikut hijrah ke Najasyi bersama orang-orang yang hijrah …” (HR Bukhari dan Muslim)[1]

2. Keberanian Moralitas

Abu Burdah, dari Abu Musa Radhiyallahu ‘Anh, berkata: “Sampai kepada kami berita mengenai hijrahnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika kami sedang berada di Yaman. Lalu kami pergi berhijrah kepada beliau, yaitu aku dan dua orang saudara laki-lakiku. Akulah yang paling kecil dari mereka. Salah satu dari kedua saudara laki-lakiku itu (bernama) Abu Burdah dan yang satu lagi Abu Ruhm, di tengah-tengah lima puluh tiga atau lima puluh dua orang laki-laki dari kaumku. Lalu kami naik perahu, dan perahu itu mengantarkan kami kepada Raja Najasyi di Habasyah. Akhirnya kami bertemu dengan Ja’far bin Abu Thalib. Lalu kami tinggal bersama sampai semua tiba. Kemudian kami bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau menaklukkan Khaibar. Lantas ada sejumlah orang yang berkata kepada kami (yaitu para penumpang perahu): ‘Kami lebih dahulu hijrah daripada kalian.’ Asma binti Umais –salah seorang anggota rombongan yang datang bersama kami– masuk menemui Hafshah, istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagai tamu. Setelah itu datang pula Umar menemui Hafshah, sementara Asma berada di samping Hafshah. Ketika melihat Asma di sana Umar langsung bertanya: ‘Siapa wanita ini?’ Asma menjawab: ‘Asma binti Umais.’ Umar bertanya: ‘Ini yang hijrah ke Habasyah? Ini yang mengarungi lautan?’ Asma menjawab: ‘Ya.’ Umar berkata: ‘Kami lebih dahulu berhijrah daripada kalian Karena itu kami lebih berhak daripada kalian terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ‘Asma marah (mendengar ucapan Umar itu) dan berkata: ‘Tidak demi Allah. Kalian bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Beliau memberi makan orang yang lapar di antara kalian dan menasihati orang yang bodoh di antara kalian. Sementara kami berada di suatu negeri yang jauh dan penuh kebencian terhadap Islam di Habasyah. Semua itu kami lakukan demi mencari ridha Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak akan makan atau minum hingga aku sampaikan apa-apa yang kamu ucapkan itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Kami selalu diganggu dan ditakut-takuti, dan aku akan menuturkan hal tersebut serta menanyakannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Demi Allah, aku tidak berdusta, tidak menyimpang dan tidak akan menambah-nambahnya.’ Setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang, Asma binti Umais berkata: ‘Wahai Nabiyullah, sesungguhnya Umar mengatakan begini, begini.’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: ‘Lalu apa katamu kepadanya?’ Asma menjawab: ‘Aku bilang begini, begini.’ Mendengar keterangan Asma itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Tiadalah dia lebih berhak terhadapku daripada kamu. Dia dan teman-temannya hanya mempunyai satu hijrah. Sedangkan kalian, wahai para penumpang perahu, mempunyai dua hijrah.’ Asma berkata: ‘Sungguh aku melihat Abu Musa dan para penumpang perahu datang kepadaku berbondong-bondong untuk menanyakan hadits ini kepadaku. Tidak ada di dunia ini sesuatu yang membuat diri mereka lebih merasa bahagia dan bangga dibandingkan dengan apa yang dikatakan kepada mereka itu oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam’ Abu Burdah (perawi hadits) menerangkan bahwa Asma berkata: ‘Sungguh aku melihat Abu Musa memintaku mengulangi hadits tersebut.’ (HR Bukhari dan Muslim)[2]

3. Melaksanakan Haji ketika Hamil Tua

Aisyah Radhiyallahu ‘Anh berkata: “Asma binti Umais istri Muhammad bin Abu Bakar melahirkan di dekat sebuah pohon. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh Abu Bakar supaya dia menyuruhnya mandi dan ihram.” (HR Muslim)[3]

4. Penuh Perhatian terhadap Anak dan Suami

Jabir bin Abdullah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Asma binti Umais: “Mengapa aku melihat badan anak-anak saudaraku (Ja’far) kurus-kurus dan lemah? Apakah mereka kelaparan?” Asma menjawab: “Tidak, cuma saja mereka terkena ‘ain (ketajaman mata orang yang dengki).” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Jampilah mereka!” Asma berkata: “Aku menawarkan kepada beliau untuk menjampinya. Tetapi beliau berkata: ‘Jampilah mereka olehmu!’” (HR Muslim)[4]

Uraian di atas berkaitan dengan perhatiannya terhadap anak-anaknya. Adapun perhatiannya terhadap suami, dapat kita lihat dalam riwayat Thabrani dari Qais bin Abu Hazim. Dia berkata: “Kami masuk menemui Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anh ketika beliau sedang sakit. Lalu aku melihat seorang wanita berkulit putih dan pada kedua tangannya ada tato. Dia sedang menghalau lalat dari Abu Bakar dan dia adalah Asma binti Umais.”[5]

5. Kesaksian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap Asma

Abdullah bin Amru ibnul Ash menceritakan bahwa sekelompok orang Bani Hasyim datang menemui Asma binti Umais. Lalu masuk Abu Bakar. Ketika itu Asma menjadi istri Abu Bakar. Ketika Abu Bakar melihat orang-orang Bani Hasyim itu, dia merasa tidak suka. Hal itu beliau tuturkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menambahkan: “Memang aku tidak melihat kecuali kebaikan.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memaafkannya dari perbuatan tersebut.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri di atas mimbar dan bersabda: “Sesudah hari ini, seorang laki-laki tidak boleh memasuki rumah wanita yang suaminya tidak ada, kecuali dia bersama seorang atau dua orang lelaki.” (HR Muslim)[6]

Kesaksian itu mengingatkan kita pada kesaksian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Lewat sabdanya ini: “Saudara-saudara perempuan yang berempat, yaitu Maimunah, Ummul Fadhal, Salma, dan Asma binti Umais –saudara perempuan mereka dari garis ibu– adalah wanita-wanita mukminat.”[7]

[1] Bukhari, Kitab: Peperangan, Bab: Perang Khaibar, jilid 9 hlm. 26. Muslim, Kitab: Keutamaan-keutamaan para sahabat, Bab: Di antara keutamaan Ja’far bin Abu Thalib, Asma binti Umais dan warga sampan, jilid 7, hlm. 172.

[2] Bukhari, Kitab: Peperangan, Bab: Perang Khaibar, jilid 9, hlm. 24. Muslim, Kitab: Keutamaan-keutamaan para sahabat, Bab: Keutamaan Ja’far bin Abu Thalib, jilid 7, hlm. 172.

[3] Muslim, Kitab: Haji, bab: Ihram wanita bersalin dan sunnah hukumnya mandi untuk ihram, demikian pula bagi wanita haid, jilid 4, hlm. 27.

[4] Muslim, Kitab: Salam, Bab: Diperbolehkan menjampi orang yang terkena ‘ain, luka lambung, terkena racun, dan pandangan orang yang hasad, jilid 7, hlm. 18.

[5] Lihat Majma’ az-Zawa’id, jilid 5, hlm. 170, Hafizh al-Haitsami berkata: “Semua rijal hadits tersebut sahih.”

[6] Muslim, Kitab: Salam, Bab: Pengharaman berkhulwat dan menemui wanita ajnabi, jilid 7, hlm. 8.

[7] Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, no. 2760.

http://www.hasanalbanna.com/kepribadian-wanita-asma-binti-umais-istri-tiga-sahabat-yang-dijamin-masuk-surga/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s