Muhasabah dan Evaluasi Diri: Kunci Kemenangan Hakiki

DAKWAH, FIQIH DAKWAH · TAGGED: RIADI BUDIMAN

inShare
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah keharibaan junjungan nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam., keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang berjuang di jalannya.

Perwujudan masyarakat madani yang relijius dan beramar ma’ruf nahi munkar niscaya melalui proses perbaikan pribadi para anggotanya. Hal tersebut ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Al-Nur Ayat 55 – 56 dan Surat Al-Hajj Ayat 41. Ayat tersebut menjanjikan kemenangan sampai pada tahapan terakhir bagi orang-orang yang sukses di tahapan-tahapan sebelumnya.

وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنا يعبدونني ولا يشركون بي شيئا ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفاسقون وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة وأطيعوا الرسول لعلكم ترحمون (النور 55-56 )

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.”

الذين إن مكناهم في الأرض أقاموا الصلاة وآتوا الزكاة وأمرو بالمعروف ونهوا عن المنكر ولله عاقبة الأمور (الحج 41)

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Berdasarkan ayat tersebut, dapat dipahami bahwa kemenangan yang dihasilkan oleh perjuangan harus memberikan dampak positif berupa bangkitnya kekuatan ruhiyah yang tinggi yang dibuktikan dengan ditegakkannya sholat lima waktu, tegaknya solidaritas sosial melalui amalan zakat, terwujudnya kerja sama yang baik antarelemen masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang baik dengan ditegakkannya amar ma’ruf dan terwujudnya kerja sama antarmereka dalam mencegah timbulnya kejahatan dan kerusakan yang dibuktikan dengan adanya nahi munkar.

Untuk sampai kepada kemenangan yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat tersebut di atas ada syarat yang harus dipenuhi yaitu iman dan amal shaleh. Untuk mempertahankan kemenangan tersebut juga ada syarat yang harus dipenuhi yaitu kokohnya ruhiyah, tegaknya keadilan sosial dan berjalannya hisbah antara sesama yang diwujudkan dalam amar ma’ruf dan nahi munkar.

Ketentuan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Surat Al- Nur dan Al-Hajj tersebut di atas harus dijadikan cermin bagi dakwah ini, cermin bagi pimpinan dan anggota, agar selalu melihat dirinya, apakah masih dalam ri’ayah robbaniyah dengan terawatnya iman dan amal shaleh dalam setiap langkah pribadinya, apakah dakwah ini sudah bisa mewujudkan keadilan sosial bagi masyarakat dan bangsanya dan apakah di antara mereka masih terbangun budaya hisbah yang baik dengan tegaknya amar ma’ruf nahi munkar? Atau tanpa terasa sudah mulai terjebak masuk dalam penyimpangan sistem yang ada di sekitarnya, sehingga mengubah pola pikir dan gaya hidupnya dan tidak lagi siap untuk diingatkan dan dinasehati.

Untuk itu, ketika dakwah ini sudah masuk dalam ranah siyasah, beberapa anggotanya memegang berbagai jabatan publik dan beberapa di antara mereka sudah mendapatkan berbagai fasilitas maka muhasabah dan evaluasi diri harus selalu dilakukan. Baik dalam skala pribadi maupun kolektif. Tujuannya agar para anggota tersebut tidak terjebak kepada tindakan negatif yang dapat merusak tatanan dakwah dan dapat menghambat tercapainya kemenangan yang diinginkan.

Ada beberapa hal yang harus diwaspadai oleh seluruh jajaran anggota dan pimpinan agar tidak merusak citra dan nama baik dakwah dan tidak menghambat kemenangan dakwah yang dicita-citakan:

1. Bergesernya Niat Dari Keikhlasan

Sebagai partai dakwah, maka seluruh aktifitas partai yang kita lakukan adalah bagian dari dakwah yang tentunya diharapkan bisa bernilai ibadah. Oleh karena itu keikhlasan kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus mengawal seluruh aktivitas kita, dengan terus dipastikan bahwa sarana yang kita lakukan juga tidak bertentangan dengan syariah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, hanya dengan dua syarat itulah maka seluruh aktivitas dakwah kita dianggap ibadah dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Satu hal yang perlu diwaspadai oleh jajaran anggota dan pimpinan adalah bergesernya niat dari keikhlasan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bisa jadi dengan menjadikan seluruh aktifitas kepartaian sebagai tujuan atau menjadikan tujuan dari seluruh aktivitas partai hanya untuk jabatan dan kepentingan duniawi. –wal iyadzu billah-.

Jika hal itu terjadi, maka seluruh aktivitas kita hanya dianggap sebagai permainan dunia semata, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-An’am Ayat 32:

(وما الحياة الدنيا إلا لعب ولهو وللدار الآخرة خير للذين يتقون أفلا تعقلون)

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, tidaklah kamu mengerti?”

Hal ini juga diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, di mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

”Bahwa orang pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid, ketika dihadapkan dan diingatkan tentang keni’matan saat ia hidup, ia ditanya ‘apa yang engkau lakukan dengan berbagai keni’matan tersebut?’, Ia menjawab ‘aku berperang karena-Mu sampai aku mati syahid’, Allah berfirman ‘Kamu bohong, tetapi kamu berperang karena ingin dikatakan sebagai orang pemberani’, kemudian diperintahkan untuk ditarik dan disungkurkan kedalam api neraka… “ HR. Muslim

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa amal ibadah termasuk peperangan di medan perang sekalipun, jika tidak dilandasi dengan keikhlasan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala maka akan menjadi sia-sia dan hanya menjadi permainan belaka. Apalagi aktivitas kepartaian yang terkesan hanya untuk merebut kekuasaan.

Oleh karena itu, seluruh aktivitas yang dilakukan dalam dakwah ini harus dipastikan niat dan keikhlasannya hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keikhlasan niat dianggap benar jika amal, karya dan akfitivitas yang dilakukan tidak bertentangan dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan orientasi yang dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan aktivitas adalah orientasi akhirat bukan hanya semata orientasi kekuasaan dan jabatan.

2. At Tarf dan Al Israf

Alt tarf yang berarti bermewah-mewahan dalam gaya hidup karena berlimpahnya materi yang dimilikinya sehingga sampai pada kategori isrof yang berarti berlebih-lebihan dari batas kewajaran baik dalam memilih makanan, minuman, pakaian, perhiasan, kendaraan dan sarana hidup lainnya.

Sifat ini muncul bisa jadi karena bawaan hidup, karena ia lahir dari keluarga kaya atau muncul dari perubahan kondisi dari miskin menjadi kaya atau juga karena terpengaruh oleh gaya hidup lingkungan kerjanya atau orang-orang yang ada di sekitarnya.

Sifat seperti ini apapun sebabnya perlu dihindari, karena bagaimanapun kita hidup dalam organisasi dengan semangat kebersamaan, dalam shaf dakwah, dimana kita memiliki hak dan kewajiban yang sama, melangkah bersama, memenangkan dakwah bersama, sehingga tidak ada yang merasa memiliki andil kemenangan yang paling besar. Semuanya sama-sama memiliki andil. Kesamaan inilah yang mengajari kita untuk hidup bersama-sama yang menuntut untuk saling ta’awun dan takaful di antara kita.

Kelebihan materi yang dimiliki oleh sebagian kader tidak berarti ia bebas menikmatinya dengan menampilkan gaya hidup yang berlebihan tanpa menjaga perasaan kader lain yang mungkin di antara mereka dalam kondisi yang serba kekurangan.

Sifat ini berdampak negatif kepada pelakunya, baik sebagai pribadi dengan berkurangnya perhatian kepada orang lain kurang adanya kesiapan untuk menghadapi hidup yang berat, berkurangnya sensitivitas terhadap halal dan haram sehingga bisa menjerumuskannya pada usaha-usaha yang haram maupun sebagai salah satu anggota dengan melahirkan kesenjangan antara sesama sehingga bisa menimbulkan su’udzon dan pudarnya ikatan ukhuwah di antara mereka. Hal ini menyebabkan terhambatnya kemenangan yang diinginkan.

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فوالله ما الفقر أخشى عليكم ولكن أخشى عليكم أن يبسط الدنيا عليكم كما بسطت على من كان قبلكم ، فتنافسوها كما تنافسوها ، وتهلككم كما أهلكتهم ” أخرجه البخاري

“Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan kepada kalian, tetapi aku khawatirkan adalah jika dunia dilapangkan untuk kalian sebagaimana pernah dilapangkan untuk orang-orang sebelum kalian. Kalian saling berlomba untuk dunia sebagaimana mereka berlomba, dan kalian akan dibinasakan sebagaimana mereka dibinasakan.” HR. Al Bukhari

3. Ittiba’ Ays Syahawat Wasy Syubuhat

Yaitu mengikuti keinginan dan pikiran pribadi tanpa mau dikontrol dengan aturan syariah dan tanpa memperhatikan dampaknya bagi Islam dan umat Islam.

Jika syahwat dan syubuhat tidak mau dikendalikan oleh aturan syariah, maka jelas akan sesat dan menyesatkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Shad Ayat 26, dan Al-Qashash Ayat 50:

(ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله) ص 26

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, maka ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah” QS. Shad, Ayat 26.

(ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله ) القصص 50

“Tidak ada orang yang paling sesat dibanding orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tanpa petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” QS. Al-Qashash, ayat 50

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab seseorang mengikuti syahwat dan syubuhat, di antaranya: selalu mengikuti keinginan pribadi, senang mengekspresikan ide dan pikiran tanpa memikirkan dampak negatifnya lebih dahulu, senang melakukan hal-hal yang kontroversi, senang berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki ide dan pemikiran liberal dan kurangnya berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Quran.

Sifat ini memberikan dampak negatif bagi pelakunya, seperti: lemahnya ruhiyah dan ketaatan kepada Allah, kurang peka terhadap rambu-rambu syariah, mencari-cari dalih pembenaran bagi pemikirannya, meremehkan dosa dan tidak siap untuk dinasehati.

Sifat seperti ini tentu bukan sifat seorang dai, karena tarbiyah yang kita lakukan memiliki target salamatul aqidah, shihhatul ibadah, dan kesiapan untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya secara utuh, dengan menjadikan syariah sebagai landasan hidup.

Apabila sifat seperti ini melanda aktivis dakwah apalagi pada tataran pimpinan, maka dampaknya kepada organisasi tentu sangat besar, di antaranya: menjauhnya beberapa kader dari kegiatan organisasi, terpecahnya shaf dakwah, rapuhnya soliditas organisasi, sulitnya mencari kader pendukung dan sulitnya untuk mendapatkan kemenangan, karena kemenangan itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mengatakan pada ayat tersebut di atas, maka kemenangan itu diberikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bukan kepada orang-orang yang melepaskan diri dari syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, kader terutama jajaran pimpinan dituntut untuk berucap dan bersikap bijak, yang dapat menenangkan hati anggotanya dan tidak menimbulkan ekses negatif bagi dakwah yang dikendalikannya dengan tetap menjadikan syariah sebagai landasan setiap gerak dan langkahnya.

4. ‘Ujub (Ta’jub Kepada Diri Sendiri)

Yaitu merasa kagum terhadap apa yang telah dilakukan, baik ucapan, perbuatan maupun kebijakan, meskipun tanpa meremehkan ucapan dan perbuatan orang lain dan tanpa merendahkan pribadi orang lain. Jika tindakan tersebut disertai dengan meremehkan ucapan dan perbuatan orang lain maka hal ini disebut ghurur dan jika tindakan tersebut disertai dengan merendahkan pribadi orang lain maka hal ini disebut takabbur. Jadi ta’jub kepada diri sendiri, sangat berkaitan dengan ghurur (merasa diri lebih hebat), dan takabbur (sombong).

Ciri-ciri sifat ujub, di antaranya: selalu membangga-banggakan diri sendiri, sering menceritakan kehebatannya, merasa senang dengan kelemahan orang lain dan sulit untuk menerima nasihat.

Sifat seperti ini bisa dimiliki oleh seseorang karena pengaruh lingkungan keluarganya dan bisa jadi akibat dari pergaulan dengan orang-orang yang memiliki sifat yang sama dan bisa juga karena banyak pujian yang diberikan oleh orang kepadanya, atas kelebihan dan keunggulan yang dimilikinya.

Sifat ini sangat membahayakan pelakunya karena ia akan terjebak kepada tiga sifat tercela secara bersamaan: ujub, ghurur, dan takabbur yang dampaknya ia tidak disukai oleh orang lain dan akan dijauhi oleh banyak orang.

Sifat ini jika menimpa kepada kader dakwah maka ia akan kehilangan pengikut dan ia akan kesulitan untuk merekrut kader-kader baru sehingga target kemenangan semakin jauh untuk diraih. Bahkan dapat menjadikan organisasi yang sudah terbangun pun akan rapuh dan hancur bersama waktu. Sebab, orang yang kagum kepada dirinya sendiri akan menyandarkan perjuangan kepada kehebatan dirinya, ia akan lupa akan kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pencipta dan Pemberi kemenangan.

Hal itu sudah dibuktikan dalam sejarah, dengan kejadian perang Hunain, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat At-Taubah Syat 25 :

(لقد نصركم الله في مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما رحبت ثم وليتم مدبرين)

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.”

Terakhir, kita semua harus sadar dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa yang memiliki kekuatan adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang memberikan kemenangan juga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan sekali-kali mengabaikan kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jangan sekali-kali menjadikan kekuatan materi sebagai kekuatan andalan bagi dakwah. Sebab, jika ketergantungan berubah maka janji Allah tidak akan terealisir dan kemenangan akan jauh didapatkan.

Qulillahumma malikal mulki tu’til mulka man yasyaa…. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s